SHALAT SUBUH ANTARA IMAN DAN KEMUNAFIKAN

4 May 2011

36192853-subuh1Suatu kali saya berbincang dengan teman seprofesi diserambi depan mushala, saya bertanya kepada teman saya ini. Kenapa yah kalau kita perhatikan, kita dan warga desa disini kita sulit untuk shalat jamaah subuh, bahkan tidak jarang diantara kita yang bangunnya sampai kesiangan hingga waktu subuh terlewatkan begitu saja, apa ini bukan merupakan dosa ? dengan santainya teman saya menjawab saya yakin kita semua sudah tahu kalau shalat jamaah itu lebih utama dari pada shalat munfarid, kita juga pasti tahu kalau menyepelekan shalat itu dosa, tapi kayaknya mustakhil, kita semua bisa melaksanakan shalat subuh berjamaah. Yah kamu tahu sendiri aktivitas warga disini setiap hari punya kerjaan yang berat disiang hari,ada yang kerja mencangkul disawah, mencari kayu bakar dihutan, menanam kacang kacangan di Tegalan, jadi tukang becak dll, yang pasti fisik mereka akan tidak mampu untuk bangun diawal subuh, karena mereka merasa letih ngantuk dimalam sampai pagi harinya, tapi bukan kah tuhan kita maha pengasih, maha penyayang, maha pengampun?t saya yakin allah mengampuni dosa kita yang selalu lambat shalat subuh atau bahkan kesiangan karena alasan tersebut ? teman saya balik bertanya.
Saya pun terdiam sejenak menanggapi pertanyaan balik teman saya tersebut, sejurus kemudaian saya berkomentar Perkataan kamu bahwa allah itu maha penyayang dan maha pengampun itu tidak keliru, namun saya saya kira kamu yang keliru menempatkan. Andai kata allah mengampuni dosa orang yang selalu menjaga shalat pada waktunya dan juga mengampuni orang yang meremehkan kepada waktu sholat, terus apa gunanya kita beramal sholeh ? apa gunanya kita diperintahkan agama untuk bersungguh-sungguh taat kepada allah kalau memang allah bakal mengampuni semua dosa orang yang taat dan yang tidak ?
Itulah sekelumit dialog antara saya dan teman saya tentang nasib shalat subuh di didesa saya.
Kita sadari, bahwa shalat wajib yang paling sedikit tapi paling berat adalah shalat subuh. Mungkin kalau kita boleh usul sama Tuhan, lebih memilih shalat subuh 10 rakaat tapi waktunya jam 08 pagi daripada 2 rakaat tapi waktunya ketika cuaca sangat dingan dan waktu asyik asyiknya bernostalgia dengan mimpi-mimpi indah. Memang sepertinya usul tersebut dapat diterima oleh akal, tapi saya kira kalau alasannya dingin atau waktu asik untuk tidur, itu menjadikan kita merasa berat melaksanakan shalat jamaah subuh kurang dapat diterima, karena bukankah Allah telah berfirman Allah Tidak Membebani Seseorang Melainkan Sesuai Dengan Kemampuannya (2:286). Jadi mustahil Allah menempatkan waktu subuh diletakan setelah fajar shodik menyingsing kalau ternyata makhluknya merasa tidak mampu menjalankannya. Saya yakin semua waktu shalat ada rahasiannya. Kenapa Tuhan menempatkan Dhuhur di siang hari, Isya di malam hari dan Subuh diletakan diwaktu kita asyik bercengkrama dengan bantal ? dan ternyata keyakinan saya bahwa semua waktu shalat itu ada rahasianya itu tidak keliru. Terbukti ternyata ada hadist yang meriwayatkan bahwa suatu ketika saat rasulullah saw shalat subuh, beliau bertanya, apakah kalian menyaksikan bahwa sifulan shalat? Mereka menjawab, tidak. Beliau berkata lagi, sifulan? Mereka menjawab, tidak. Maka, beliaupun bersabda: sesungguhnya dua shalat ini ( shubuh dan isyak ) aalah shalat yang berat bagi orang munafiq. Sesungguhnya, apabila mereka mengetahui apa yang ada dalam shalat subuh an isyak, maka meeka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak. (hr. Ahmad dan nasai)
Maaf bukannya saya bermaksud mengajari para pembaca tulisan ini, tentang hadist tersebut, karena saya kira pembaca lebih alim dari saya. Tapi coba renungkan sabda nabi diatas. Ternyata shalat subuh adalah sebuah ujian besar bagi kita yang suka mengaku-ngaku beriman. Tuhan ingin membuktikan kebenaran iman kita dengan shalat subuh, mampukah kita menjalankannya tepat pada waktunya ? atau justru sebaliknya? Kalau kita mampu melaksanakannya berarti ada jaminan bahwa kita benar-benar beriman kepada Allah. Tapi kalau kita tidak mampu melaksanakannya atau malah meremehkannya berarti keimanan kita masih diragukan bahkan kita digolongkan oleh nabi sebagai Orang Yang Munafiq ( Naudzubillah ).
Sekali lagi saya mohon maaf, bukan maksud hati untuk mengajari pembaca, tapi bolehkah saya bertanya pada diri saya sendiri dan juga teman teman. Siapakah diantara kita yang mau dikatakan munafiq? Tentu tidak ada bukan ? lantas kenapa kita merasa berat melaksanakan shalat subuh dengan berjamaah ?Kenapa kita merasa sudah beriman jikalau tidak lebih takut kepaa Allah yang memiliki alam semesta ini? Kenapa kita sering merasa lebih alim disbanding yang lain, kalau kita tidak mengamalkan ilmu yang kita dapat? Apa gunanya kita rajin belajar semalam suntuk,bekerja keras banting tulang mencari nafkah kalau justru kewajiban kita ditinggalkan?
Ya Allah, kami memohon hidayahmu, berilah kami tambahan ilmu, bukan hanya bertambahnya ilmu saja tapi juga yang bermanfaat, bukan hanya bermanfaat saja tapi juga bisa mengamalkannya, bukan hanya bisa mengamalkannya saja tapi juga bisa ikhlas dalam melaksanakannya, ya allah, mudahkan urusan agama dan urusan dunia kami, mudahkan pula agar aku bisa sujud di waktu subuhmu ! Amin.
Sebelum saya mengakhiri tulisan ini renungkanlah kata-kata penguasa yahudi berikut ini : Kami ( orang yahudi ) tidak takut dengan orang islam kecuali pada satu hal yaitu bila jumlah jamaah shalat subuh menyamai jamaah sholat jumat .Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari perkataan orang yahudi tersebut ?
Tulisan ini terinspirasi dari kitab kaifa nuhafidzu alasshalatil fajri karya syaikh raghib as-sirjani.dan kisah nyata didesa kami


TAGS


-

Author

Follow Me